selalu ingin belajar dari masa lalu, sekarang dan untuk nanti


well educated leader or good educated leader?

Setahun menjelang pemilihan umum dan pemilihan presiden secara langsung, ada banyak wacana yang disampaikan banyak politikus dan negarawan di negeri ini. Mulai dari fisik dan kesehatan capres, polemik capres tua/muda (under/above 50), bahkan termasuk masalah pendidikan terakhir seorang calon presiden.

Terkait masalah terakhir yang disebutkan di atas, apa benar tingkat pendidikan menentukan kualitas seorang (calon) presiden?

Ada banyak orang berpendidikan di bumi Indonesia ini. Ada banyak pula orang baik di sini.

Tapi faktor utama apakah yang paling dibutuhkan sebuah bangsa dalam memilih pemimpin?

beberapa waktu yang lalu, salah satu parpol mensyaratkan calon presiden yang akan mereka usung ke pentas pemilihan presiden langsung tahun depan adalah minimal harus menyandang gelar Doktor. wow… hebat

tapi apakah itu jaminan seorang yang bergelar doktor (disingkat DR -> dengan huruf besar) bisa membawa negeri ini kepada yang lebih baik seperti yang kita dambakan bersama.

Seorang yang berpendidikan tinggi bukanlah jaminan adalah juga seorang yang baik. di DPR banyak yang berpendidikan, tapi korupsi juga. di LP-LP banyak juga yang bergelar akademis ok, tapi koq bisa jadi tahanan.

Tapi kalau orang baik saja jg tidak mungkin bisa dijadikan pemimpin. Akan banyak timbul mosi tidak percaya yang bisa membuat wibawanya bakal goyah dan akibatnya mengganggu stabilitas negara.

Abraham Lincoln adalah salah seorang presiden besar di negeri paman sam. dia tidak pernah menyentuh pendidikan formal, berarti tidak punya gelar akademis. banyak hal dia pelajari dengan otodidak dan dari pengalaman. tapi dikenal dengan salah satu jasanya yang menghapuskan perbudakan di amerika.

well educated leader => “well” adalah adverb, menjelaskan kata kerja “educated” berarti pemimpin yang berpendidikan baik (pendidikannya yang baik)
good educated leader => “good” adjectif menjelaskan noun atau kata benda “leader” berarti pemimpin baik yang berpendidikan (orangnya yang baik dan berpendidikan juga)

jadi mau pilih yang mana? saat ini bangsa kita dipimpin oleh seorang yang bergelar Doktor, berhasilkah ia? jawaban sudah ada di hati kita masing-masing.

hmm, pilihannya juga kembali lagi pada kita.

wassalam

intinya sih cuma “takana jo kampuang”

“kamu orang padang ya?”
“iya pak”
“padangnya dimana?”
(kalau dijawab aia tawa memang bpk tahu?)
“hmmm …”
“ada kenalan di padang pak?”
“teman saya ada juga orang padang, dia dari bukittinggi”
“ooo … saya di padang kota pak”

kenapa orang (di rantau) selalu merepresentasikan kalau semua orang minang, sumatera barat disatukan jadi orang padang ya?

kalau gw sih ok aja, secara memang orang padang (kota). tapi kan saudara2 yang dari pariaman, bukittinggi, solok, dll ga semua bisa menerima ini.

kecuali yang memang sudah terbiasa (lama tinggal di rantau), paling ga sudah mengertilah …
bahwa padang yang dimaksud adalah sumatera barat. kebanyakan juga mereka lebih suka disebut orang minang.

Sementara minang merupakan suku bangsa pribumi dan mayoritas di sumatera barat. just fyi, 100% orang minang adalah muslim, kenapa begitu? karena meskipun seseorang dari keturunan minangkabau dan beragama non-muslim, secara otomatis dia keluar (tidak dianggap) sebagai orang minang lagi. adat minang adalah “adat basandi sarak (agama), sarak baandi kitabullah (alquran)”

orang sumbar belum tentu orang minang. karena di sumbar juga banyak orang jawa, sunda, batak, china, mentawai, dll. begitu juga sebaliknya, orang minang belum tentu juga orang sumbar. karena banyak perantau minang yang telah menetap dan menjadi warga di daerah lain di seluruh indonesia bahkan di luar negeri.

tapi yang membuat bangga adalah betapa bangganya setiap orang minang itu menjawab pertanyaan: “kamu asli mana?” atau “kampung kamu dimana?”
berbagai persatuan, perkumpulan dibentuk untuk mempererat silaturrahim. semua tentu demi kemajuan kampung halaman.

tapi betapa terkejutnya kita saat berita di televisi menyiarkan pertikaian warga antar nagari di ranah tercinta itu. masalahnya perebutan tanah kaum. memang dari dulu sampai sekarang sumatera barat adalah provinsi dengan tingkat sengketa tanah tertinggi di indonesia. adanya sistem hukum adat akan harta pusaka tinggi dan rendah, termasuk didalamnya masalah tanah kaum sepertinya bisa menjadi alasan yg kuat untuk terjadinya suatu sengketa. bahkan dengan saudara atau keluarga sendiri, apalagi dengan kaum dari nagari berbeda.

Ya 4JJI, semoga apa yang terjadi di Solok bisa terselesaikan dengan damai. berikanlah kesabaran dan kebesaran hati kepada kami, amin

wassalam

kenapa Kartini?

bertambah lagi setahun peringatan RA Kartini sebagai pembawa pembaharuan di Indonesia. sosok wanita pejuang dengan pikiran, melalui goresan tinta menulis “habis gelap terbitlah terang”

secara kasat mata apalah kehebatan Kartini dibanding wanita2 pejuang lainnya. pada zaman perjuangan tersebutlah nama Cut Nyak Dien sebagai pimpinan pasukan melanjutkan tugas suaminya Teuku Umar. masih ada juga Rohana Kudus sebagai wartawan wanita pertama di Indonesia.

trus, dibandingkan dengan wanita masa sekarang?
“anak pisang” gw yang baru berumur 6 tahun udah bisa ngutak-ngatik komputer.
sementara kartini melihatnya aja mungkin belum pernah.
apalagi wanita sekelas DR. Meutia Hatta, dan masih banyak lagi yang lain yang semua juga udah pada tahu.

pertanyaanya, kenapa Kartini yang jadi ikon untuk emansipasi wanita?
kalau gw sih melihat beliau sebagai pelopor, yang pertama dengan pemikiran seperti itu di masanya dimana wanita kebanyakan lainnya belum sama sekali. meski tidak bisa dipungkiri beberapa wanita pejuang masa sebelumnya telah melakukannya langsung dengan tindakan nyata.

well aniwei, selamat hari kartini buat wanita indonesia. gender bukanlah halangan untuk kreatif, tapi batasan-batasan tetaplah ada.

wassalam