selalu ingin belajar dari masa lalu, sekarang dan untuk nanti

Archive for the ‘hikmah’


kasur

pernah baca kisah “buku telepon” yang pernah saya posting sebelumnya?
kalau pernah, kisah berikut kurang lebih sama.

Adalah seorang teman saya yang mengalaminya.
pagi ini matanya terlihat sembab dan kelihatan masih ngantuk. tapi tampaknya keceriaannya tidak tertutupi oleh sembabnya mata tersebut. iseng saya bertanya. “lu bergadang ya? nonton bola lagi?”

“ah ga lah, di kontrakan gw belum ada tv. lagian malas ke sana lagi, pertandingannya belum terlalu penting.”

“lagian tumben lu telat? ga biasanya … mana rumah juga di belakang sejengkal”

“ya iyalah … setelah 3 minggu di kontrakan baru semalam gw beli kasur. gila!!! tidur gw enak bangettt … yuhuuu …

saya tahu cobaan bertubi-tubi yang baru saja dilaluinya, apalagi seorang lagi teman satu kontrakannya dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. tapi keceriaan tidak akan menghambat atau melarang hal begitu.

inikah contoh rasa syukur itu?

memang seharusnya kita nikmati hidup ini dengan penuh rasa syukur, ikhtiar dan tetap berdoa.

wassalam

wajah yang sejuk

sampai saat ini saya masih menidentikan seorang shaleh lebih dekat kepada orang susah. meskipun tidak percaya, tapi memang saya lebih sering melihatnya demikian. kalau terlalu berlebihan, maka saya akan tuliskan seorang saleh identik dengan orang dengan kemampuan hidup sederhana.

dari awal lingkungan sekolah dasar, smp, sma dan kuliah itulah yang saya dapatkan.

memang sih kesalehan itu tak harus terlihat. amalan dan ibadah sungguh lebih baik diam-diam. tapi itu bisa terlihat kan … paling tidak kita bisa menilai, mereka-reka dan logikanya kita bisa mengambil keputusan. walau apapun ketaqwaan seseorang hanyalah ALLah yang tahu.

tapi

“assalamualaikum …”
itulah sapaanya setiap kali saya bertemu dengannya. terlihat jernih dan sejuk sekali wajahnya itu. senyumnya ikhlas dan tampilannya sederhana namun terlihat cukup berkelas.

jujur saja, saya bersimpati pada bapak yang satu ini. semoga beliau juga memiliki banyak amalan baik yang dirahasiakan. semoga sehat selalu dan tetaplah dengan senyuman itu.

wassalam

tukang roti dan petani

dari http://ksuheimi.blogspot.com/
Suatu ceritra yang menggelitik dan jadi bahan renungan adalah sewaktu saya mendengar Radio Classy dengan judul tukang roti dan petani.

Suatu hari , seorang tukang roti di sebuah desa kecil membeli satu kilogram mentega dari seorang petani. namun melihat ukuran mentega yang ia beli , Ia jadi curiga bahwa mentega yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram. Beberapa kali ia menimbang mentega itu, dan benar, berat mentega itu tidak penuh satu kilogram. Yakinlah ia, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu dimajukan ke sidang pengadilan.

Pada saat sidang, hakim berkata pada petani,
“Pak tani … apakah kau tidak mempunyai timbangan? , sehingga engkau tidak menimbang mentega yang kau jual kepada tukang roti ini?”

“Tidak, tuan hakim, saya tidak memiliki timbangan” jawab petani.

“Lalu, bagaimana kau bisa menimbang mentega yang kau jual itu?” tanya hakim.

Petani itu menjawab,
“Ah, itu mudah sekali dijelaskan, tuan hakim. Untuk menimbang mentega seberat satu kilogram itu, sebagai penyeimbang, saya gunakan saja roti seberat satu kilogram yang aku beli dari tukang roti itu.”

Classy people , (ann : sambil ketawa geli), cerita tadi mungkin cukup membuat kita geli . tapi itu adalah hal yang sering kita alami sehari-hari , bahwa kekesalan kita pada orang lain , sering berasal dari sikap kita sendiri pada orang lain.

Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman suci_Nya dalam Al_Qur’an;
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)


FireStats icon Powered by FireStats