Suhat 2

12 Aug 2011

#2

Menjelang sahur, 10 Agustus 2011

Kekasihku, aku selalu mendapat masalah dalam kepercayaan. Jarak membuat aku sulit untuk meraihnya, bahkan sikapku ternyata juga membuat aku tidak bisa dipercaya. Padahal aku sudah memberikan kata-kataku, kenapa tidak diberikan waktu untuk membuktikannya?

Kekasihku, aku bersedih dan menangis dalam harapanku yang kian semu. Mungkin ini yang terbesar sepanjang hidupku. Dan ketika aku inginkan sesuatuwaktu masih kecil dulu, aku belum bisa menentukan baik buruknya. Kadang aku memaksa dengan marah dan tangisan. Tapi ibuku walau sering berkata tidak, tetap berusaha memenuhinya. Kakak-kakakku lebih realistis, sementara ayahku keras dan tegas.

Saat ini, kekasihku, mendekati usiaku yang ke-29. Aku ingin sekali merengek pada Tuhan, kenapa tidak dipermudah saja? Aku tidak memilih lebih dari satu, hanya kamu. Sejak awal menemukanmu aku sudah tergetar dan merelakan dirimulah pilihanku. Tapi kekasihku, dirimu menginginkan menunggu jawaban Tuhan. Begitu juga aku, bisa dimengerti.

Dalam gerak hidupku tidak ada yang seperti kamu. Dalam usiaku yang terpakai tidak kutemukan lagi getar yang sama dengan saat-saat ini. Aku seperti merasa inilah titik itu, bukan nanti lagi, bukan yang lain lagi. Menerimamu dengan segala konsekuensinya. Bersamamu terpaket dengan resikonya. Semua mereka melakukan hal yang sama, sayang, menjalankan keputusan yang sama. Kenapa aku, kamu tidak bisa? Sungguh, hati sangat dekat, dan kumohon kamu tidak perlu kemana-mana lagi, menulis apa-apalagi sendiri.

Ini aku, titik yang sama seperti dalam doamu. Mungkin sedikit berbeda, tapi yakinlah tulisan kisah seyelahnya akan mendapatkan akhir bahagia seperti juga yang kudoakan, amin

#3

Pagi ini aku di sekolah, para pejabat disibukkan oleh kedatangan pejabat lainnya. Tahukah kamu, kekasihku? Mandi pagi tadi aku tidak muntah lagi, kebiasaan penyakit yang sulit kuhapus. Aku sudah pernah ceritakan ini sebelumnya. bagaimana menderitanya aku di setiap pagi, apalagi di setiap bulan Ramadhan. Aku merasa berdosa dengan itu walau kuyakin ketidak sengajaan bukanlah masalah. Kita tidak pernah tahu.

Kekasihku, aku masih ada jam mengajar, tapi sekarang sedang kosong. Kuputuskan untuk kembali mencurahkan hatiku pada Tuhan. Kutanya dan kumohonkan tentang masalah kita.

Namaku Dhuha, ayahku yang memberikannya. Berat menyandang nama ini, apalagi dengan alasan anak laki-laki yang ketiga, akui dinobatkan lagi menyandang nama Muhammad di depannya, Nabi SAW. Satu kebijakan yang kusenangi dari ayahku adalah kepercayaan. Beliau percaya, mempercayaiku atau tidnakan, serta pilihan hidup yang kujalani. Syaratnya Cuma satu, tanggung jawab. Sesaat aku menjadi seorang yang bebas, tapi tidak lama. Aku juga seorang yang realistis ternyata, atau mungkin penakut. Aku seorang yang datar, hasilnyapun aku menjadi seorang biasa, bukan siapa-siapa. Ini salah satu kecurigaanku kenapa kamu masih berat dengan memutuskan, sayang.

Kalau aku boleh aku minta darimu, aku juga minta kepercayaan darimu. Kamu tidak perlu menggantungkan seluruh hidupmu padaku, tapi percayakan padaku apa yang sepantasnya aku perbuat untukmu. Sampailah ke satu titik, dan lanjutkanlah kalimatmu berbarengan dengan awal tulisanku. Aku juga minta itu pada Tuhan pagi ini dan rasanya luar biasa, sayang. Mataku berkaca, bibirku gemetar. Seperti yang pernah kau alami, tiba-tiba aku teringat dosa yang telah lalu. Pantaskah aku mendapat kepercayaanNya?

Kekasihku, kata orang cinta itu buta. Bodohnya aku pernah mempercayainya. Tidak, sayang, aku baru saja mendapatkan jawabannya pagi ini. Cinta adalah rasa dari hati dan pikiran. Mata hati kita mengendalikannya. Hati tahu mana yang baik dan buruk bagi tuannya. Sayangnya nafsu kadang suka mendominasi. Kita manusia kan? Makhluk sempurna yang diberi akal oleh Sang pencipta. Dan aku yakin cinta itu tidak buta. Aku ingin dalam RidhaNya, hatiku melihatmu sebagai yang baik untukku. Aku ingin mencintaimu karena cintaku padaNya. Aku mau dan butuh kamu, sayang.

Bukit duri selatan


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post