Suhat 3

12 Aug 2011

#4

11 Agustus 2011

Hari ini aku mati, sadis tersayat sepi, terbantai perasaan dalam raungannya

Kekasihku, begitu banyak kata-kata yang berkecamuk dalam pikiranku seharian tadi, tapi kenapa susah sekali memulai merangkainya malam ini. Aku bingung harus memulai darimana. Apalagi perdebatan panjang sore tadi yang berakhir dengan tangisanmu. Aku selalu mati di depan perempuan yang menangis. Aku akan luluh bersabar menanti tangisan reda. Andai aku di situ, ingin aku memelukmu, mencium keningmu, dan katakana kalau semua akan baik2 saja, kebahagian akan menjadi milik kita. Tapi tidak mungkin, kamu telah menolaknya dan berusaha membuang membuyarkan mimpi yang ironisnya kita berdua ciptakan.

Sayang, aku bukanlah seorang yang ambisius, aku seorang datar dan bersembunyi dibalik kata relaistis. Aku sama sekali jarang terobsesi oleh segala sesuatu. Aku pernah bercerita padaamu tentang nilai pelajaran fisika ku sewaktu kelas satu sma dulu. Iya, aku mendapat nilai empat, merah yang begiitu menyilau kurasakan. Itu pula alasan aku menghilangkannya selama beberapa hari dari orang tuaku. Tapi aku selalu bersikap amatir sebagai seorang pembohong, aku menyerah. Tidak ada reaksi berlebihan dari orang tuaku. Mereka menyesalinya tentu saja. Empat berarti tidak tahu sama sekali. Aku bodoh? Mungkin. Tapi aku terobsesi untuk hanya satu pelajaran itu saja. Waktu itu masih dengan caturwulan. Aku membeli satu buku isi seratus dengan hard cover, aku sampul dengan poster pemain bola idolaku waktu itu, dibungkus lagi dengan plastik. Rapi dan enak dilihat.

Kekasihku, sungguh buku itu yang paling sering kupandangi, apalagi isinya juga termasuk lengkap. Aku tidak pernah absen mencatat dan mengikuti sunguh-sungguh pelajarannya. Cawu kedua aku mendapat nilai tujuh, ada peningkatan. Aku masih penasaran dan merasa pasti bia lebih dari itu. Cawu tiga aku mendapat nilai delapan. Sayang, kamu pasti mengenal guru kita itu, bagaimana pelitnya ia memberi nilai. Apakah ia melihat perubahanku? Aku tidak pernah tahu. Semur hidupku, aku hanya melihat dan mengingat dia tertawa Cuma satu kali. Luar biasa.

Ada satu lagi, kekasih. Sore itu aku bermain bola dengan teman2 satu kelas, bertanding dengan kelas lain. Kamu tentu pernah merasakan histerianya. Bodohnya aku membawa uang banyak, puluhan ribu, dalam saku celana jean yang melapisi celana pendek, yang kulepaskan kala bertanding di lapangan. Celana jeans itu kutinggalkan di pinggir lapangan. Singkat cerita, selesai bertanding duitku hilang. Aku mencari dan bertanya pada teman-teman, tapi tidak kutemukan dan tidak kudapatkan jawaban. Uang hilang. Padahal uang itu adalah bayaran ke sekolah, tapi aku lupa jenis bayaran apa itu.

Aku bersedih, tapi aku tidak bilang sama orang tuaku. Aku memutuskan untuk lebih banyak berpuasa sunat dan menghemat uang jajan yang kudapatkan setiap berangkat ke sekolah. Hasilnya luar biasa, sayang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, uang yang aku kumpulkan melebihi uang yang hilang. Aku sangat senang sekali.

Saat ini, aku kembali seperti merasakan hal yang serupa. Bisa kupastikan ini bukan obsesi. Tapi aku sama sekali tidak punya ide lagi. Aku seperti kehilangan akal bagaimana cara meruntuhkan kerasnya kepalamu, batunya hatimu. Salahku terlalu yakin di awal didukung oleh angan-anganmu yang begitu membuai. Tapi aku terbanting dalam sadarku, bukan mimpi. Jadi bisa kamu bayangkan betaba sakitnya. Bukan hal yang patut diselalai memang. Aku bisa menyelami hatimu, tapi bagiku itu terlalu mengada-ngada. Aku pernah tertolak dengan alasan sejenis, tapi saat itu sungguh berbeda yang kurasakan.

#5

Lewat tengah malam, 12 agustus 2011

Mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkanya. (dkutip dari novel Lelaki Pengeggam Hujan)

Malam ini, kekasihku. Ingin kuungkapkan rasa yang selama ini membuatku bertahan menjaga hubungan denganmu. Sudah pernah kuceritakan bagaimana itu, saat pertama kumengenalmu di situs jejaring sosial. Awalnya hanya lewat instant message, short message, dan akhirnya kudengar langsung suaramu lewat telepon. Lewat apapun itu, ada getar di jiwaku. Ada haru dan antusias yang dalam mendengar kisah-kisahmu yang sebenarnya tidak menarik bagiku. Tapi apapun itu kamu yang bercerita, sayang. Dan aku akan sangat senang bergadang hanya untuk mendengar makianmu pada seseorang, bahkan padaku.

Keluhanmu melukaiku. Aku mulai menentangmu dan kamu bersikeras. Selalu ada pertengkaran setelah dirimu mengeluh. Aku tidak pernah suka dengan keluhan, walau mungkin aku juga termasuk yang sering mengeluh. Tahukah kamu apa yang kualami selama ini. Awal kedatanganku di kota ini mematikan asaku. Aku hampir saja depresi demi sebuah pekerjaan. Aku memaki diri yang menyimpannya dalam draft telepon genggam. Aku pecundang. Aku mengutuk. dan aku kesepian.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri

QS. An-Naba:9-11

Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku mulai menyadari kesalahanku. Aku berusaha untuk bersyukur. Berapapun rezeki dan nikmat apapun yang ada pada diriku itulah yang aku nikmati. Kamu tahukan Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pastio azab-Ku sangat berat

Aku selalu merinding saat siapapun menyebut ayat ini. Aku belum cukup bersyukur, sama sekali belum. Manusia seperti dikutuk untuk selalu mengeluh. Aku juga ingat bagaimana guru agama kita dulu menjelaskan hal yang sama.

Malam ini, sayang, aku memulai ngajiku dengan surah Ar-Rahman. Ini hanyalah kebetulan saja bacaanku sudah sampai ke situ. Dan luar biasa Allah, Tuhan kita menejelaskan betapa pentingnya bersyuur.

Fabiayyiaalaaa irobbikumaa tukazzibaan

Aku masih terngiang waktu kecil dulu, seorang datuk yang juga ustadz memimpin shalat di mesjid komplek rumahku. Aku heran dan takjub dengan surat yang dibacanya. Diulang-ulang. Pikiran luguku hanya menyebutkan, banyak sekali tukazzibaan-nya.

Kekasihku, aku rasa aku telah jatuh cinta padamu. Hadirmu merubahku secara tidak langsung. Sudah pernah kubilang, kalau aku tidak ingin lagi pacaran. Mengenalmu memantapkan hatiku menjalaninya. Aku menyesali dosa-dosa yang telah lalu. Apa yang kamu lakukan, aku mungkin lebih. Bagiku, narkoba, miras, uang bukanlah godaan, tapi wanita. Aku sangat lemah saat bersama wanita yang juga merasa hal yang sama denganku. aku tidak mau lagi, sayang.

Walau pada akhirnya dirimu bukanlah jodohku, aku sudah berjanji pada diriku untuk tetap dengan jalan ini. Aku yakin trek ini lurus, dan aku sudah merasakannya. Aku merasa lebih bersih dari sebelumnya. Ramadhan ini Insha Allah akan lebih dari tahun lalu. Tapi sayang, kamu bagaimana? Kamu seperti menyiksa diri, aku tidak suka. Kamu bilang ingin aku bahagia, tapi kamu melupakan dirimu. Ini tidak adil. Aku salah memberi label egois pada dirimu, tapi kamu tidak adil dan tidak sayang bahkan pada dirimu sendiri.

Yakinlah sayang, apapun masalahmu, rasa sakitmu, semua pasti ada jalan keluarnya, semua pasti ada obatnya.

Turn to Allah, Hes never far away, raise your hand, and pray

Ya Allah, tuntun langkahku aku di jalanMu, haya Engkaulah pelitaku

Tuntun aku di jalanMu, selamanya

Maher zain-Fadli

Dirimu harus percaya orang-orang di sekitamu menyayangimu. Jangan berpikir hal yang aneh-aneh tetntang mereka. Aku tidak akan bosan mengingatkanmu. Hilangkan semua pikiran negative tentang dirimu dan mereka.

Di saat hampa hari, dan saat hampa hatimu

Ku kan ada, ku di sana, menemanimu slalu

Di saat hilang jalan, dan saat hilang nafasmu

Ku kan ada, ku di sana, menemanimu slalu

Letto, dalam duka

Kekasihku, aku sayang kamu, dan bahkan kusadari itu sebelum bertemu denganmu. Semoga kamu memang bahagia dengan apapun keputusan tentang dirimu sendiri, termasuk juga yang ada kaitannya denganku. tapi sebagai sesame muslim tentu kamu sadar, bahagia yang paling dicita-citakan adalah di akhirat nanti.

Bukit duri selatan


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post