it was a red gift

5 Aug 2011

Bagian 1
Tiga orang raksasa tiba-tiba menghentikan langkahku. Diriku yang semakin panik berusaha mencari celah untuk bisa melepaskan diri dan berlalu. Ternyata tak bisa, tubuh mereka terlalu besar dan kekar untuk kulalui.
kenapa kau terburu-buru?
Raksasa pertama mengaum dan menggelegarkan panas siang itu, tiupan nafasnya seakan memancing puting beliung menerpa diriku. Tapi itu tidak akan cukup mampu menciutkan nyaliku.
handphoneku ketinggalan jawabku tak konsentrasi.
sudah biarkan saja, kembalilah ke tempat semula. Raksasa kedua berusaha membujukku, yang satu ini sedikit menenangkan, tapi tetap saja tak akan mengurungkan niatku.
tapi aku harus menjemputnya, kekasihku akan menghubungiku lewat hp itu. Aku takut dia malah mengkhawatirkanku.
balik! apa pedulimu padanya! Tak ada lagi alasan! tiba-tiba tubuhku bergetar, itu tadi raksasa ketiga dan suaranya bagai petir di siang bolong, memecah pikiranku yang sedari tadi hanya berisi bayangan dia yang terus menari-nari dalam samar.
Goncangan tubuhnya yang marah memberiku celah diantara dua kakinya.I dont wanna miss it, secepat kilat aku berlari dan terus berlari meninggalkan mereka yang hanya terbengong. Mereka tidak akan pernah mengerti pikirku, tidak akan! Apa pernah mereka merasakan cinta?

***

Tiba-tiba langkahku kembali tertahan saat tepat di hadapanku membentang sebuah danau yang sangat luas. Aku heran kenapa tiba-tiba di sini ada danau, dari papan namanya tertulisstyx. Di salah satu pinggirnya aku melihat seorang yang terus-menerus menatap ke permukaan sungai.
maaf, adakah perahu untukku bisa menyeberangi sungai ini?
pria tersebut ternyata sedang malihat dan mengagumi bayangannya sendiri di permukaan air danau, saking seriusnya dia bahkan tidak menyadari kalau dari tadi aku ada di situ dan berusaha berbicara dengannya. Aneh, tiba-tiba dia berusaha mencium bayangannya sendiri, yang membuatnya jatuh ke danau. Aku hanya bisa melihat saat ia yang tidak bisa berenang meronta-ronta hingga hilang ditelan air danau. Belakangan baru aku tahu kalau pria tersebut bernamanarcissus, pria ganteng yang terkena kutukan untuk mencintai dirinya sendiri.

Di jejak yang ditinggalkan narcissus ternyata ada sebuah cermin.
anda mau kemana anak muda?
Aku kaget, cermin ini bisa bicara dan … bisa terbang juga. Dia melayang-layang di depanku, dan sepertinya kuat menampung diriku seorang sampai ke seberang sana. Pada salah satu sudut sepertinya ada cacat, sumbing, mungkin pecah membentur sesuatu, pikirku.
maukah kamu membawaku ke seberang danau?
hmmm … tunggu dulu, sepertinya aku mengenalmu. Kamu kan yang memecahkan bagian atasku ini?
Diriku terkejut, bagaimana bisa ia menuduh dengan kejam seperti itu, sejak akapan aku mengenalnya.
maaf, kapan ya? intonasiku berusaha menenangkannya.
jangan berlagak bego, kamu kan yang pernah memecahkanku waktu itu
Aku ingat, tapi itu sudah lama sekali, saat seorang sahabat yang kesal membuat skenario aneh untuk melampiaskannya.
tuan cermin, aku ingat hari itu. Kulihat dia sedikit tersenyum. tapi aku hanya eksekutor, ada aktor intelektualnya. Seorang bernama devy kurnia alamsyah merancang itu semua
aku berusaha menjelaskan apa yang dulu sebenarnya terjadi.
dia tidak menyukai kejujuran yang ada pada diri anda, tuan.uban bertambah, kaca dibelah lanjutku.
Aku berusaha keras melobi si cermin aneh bin ajaib itu, pengalamanku di majelisperwakilan mahasiswadulu ternyata masih membekas. And it works, dengan rayuan membersihkan bagian cermin yang tersisa, akhirnya aku mendapatkan tumpangan sampai ke seberang.

***

Oh God, ternyata masih ada saja cobaanmu di hari ini. Seorang gadis kecil tiba-tiba menghentikan langkahku. Rambutnya hitam sedikit di atas bahu, ada pita hitam di lehernya, dan saat itu dia memakai sebuah gaun kuno khas abad petengahan.
Dad, where do u want to go?
Dad? Im not your father, and I dont even know you kid
Dandanan anak ini menor sekali dan mencolok lagaknya seorang perempuan dewasa. Sekilas dia cukup menarik, mengingatkanku pada seorang siswa kelas lima sekolah dasar yang kukenal, dan berusaha menarik perhatianku. Aku hanya terpaku kaku, menunggu bocah yang mulai agresif ini.
My name is Esther. Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku bisa melukis untukmu, menceritakan dongeng kisah-kisah klasik favoritmu … I love you, Dad
Sontak, kalimat terakhir itu membuatku kaget. Pikiranku makin kacau, sekilas aku berpikir tak mungkin meninggalkan anak ini di sini sendiri. Tapi logisku memaksaku harus meninggalkannya. Dia sudah ada di sini, pasti sudah lama dan kulihat dia baik-baik saja.
sorry Esther, I have to go now. Aku harus segera menjemput handphoneku
Tiba-tiba kulihat gadis kecil itu menangis, mascaranya luntur terkena air mata. Malampun menyelimuti hari itu, dan beberapa lukisan yang tergeletak di tanah memperlihatkan kobaran api yang takkan terlihat di terang hari.
Esther, there must be something wrong with you
Tangan anak itu mengacungkan sebilah belati sedang ke arahku. Aku sempat menahan tangannya dan mendorongnya beberapa meter. Astaga, tenaganya sangat kuat untuk ukuran anak 11 tahun. Tiada ide yang lebih baik saat itu selain kabur. Kembali aku harus berlari dengan sisa-sisa tenaga.

Esther kemudian menjadi urusanibunya yang berakhir di telaga belakang rumah mereka.

Sebuah batu menyempoyongkan langkah cepatku, sebuah batang kayu bulat berusaha kuraih, dan tubuhku bergoncang …

***
Bagian 2
Sebuah sikut mengguncang bahuku, membuyarkan lamunan dalam perjalanan itu. Mungkin juga aku telah bermimpi.
woiiii … jangan tidur lu! Jatuh baru rasa!
Oh, benar aku bermimpi. Bahkan di atas sepeda motorpun aku bermimpi. Mengendarai ataupun bonceng sama saja bagiku. Ngantuk adalah sebuah proses ilmiah yang setiap orang merasakannya.
please, jangan tidur … bernyanyilah sesukamu asal jangan tidur, kita hampir sampai suara di depan terdengar memelas dan memohon. Biasanya dia sangat tidak menyenangi kebiasaanku bernyanyi di atas motor, tapi malam itu dia memohon padaku untuk bernyanyi. Sungguh seorang sahabat.

Sampai di rumah aku langsung berlari kecil ke kamar dan menemukan dua handphone sederhana tergeletak di atas kasur.

5 messages received and one message received

Aku mulai membaca satu persatu pesan singkat yang kuterima, hampir isinya semua umpatan. Masih terngiang olehku kejadian seminggu sebelumnya, jangan sampai lagi.
Kubalas salah satu sms itu dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, but i\’ve got this one …
TERLANJUR NGAMBEEEEK& BETE BERAAATZ …
Aku mencoba merayu dengan seperlunya, berharap ada senyuman dari seberang sana. Tidak ada, even theres no more replies. Aku hanya bisa berharap keajaiban datang besok pagi.

***

Good morning … J
This smile is for
You…

Waktu itu aku berada di sebuah ruang kelas yang penuh dengan obrolan.I was smiling at that time, bahkan dari sebelumnya. But its ok, paling tidak aku sudah mengetahui salah satu jurus andalan saat bete menyerang nya. Tidak seperti rencanaku untuk Esther sebelumnya, sebuah permen loli pop.

***

Depok, October 20, 2009


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post