goresan kecil tentang waktu pagi

21 Jan 2010

beberapa hari yang lalau aku coba kembali melihat-lihat buku lusuh yang selalu ada di tas hitam itu. dalam coretannya kutemukan beberapa tulisan cemarut yang sepertinya turut mengiringi kisah datar seorang anak rantau. kira-kira kalau diurutkan, berikutlah ia.

goresan kecil tentang waktu pagi

I. kost, tak lama setelah lebaran

Bawalah aku dalam ramai
Maki aku dalam kebisingan ini
Tinggalkan dan biarkan aku menyeracau di tengah pasar
Menanggalkan semua sangkutan
Menghempaskan sandangan

***
Akhirnya cermin itu pecah juga
Menghadirkan sedikit warna dalam suara
Menghentikan kejujurannya selama ini
Terhempas ke lantai membawa butiran-butiran penuh kilau
Kejujuran itu ternyata tajam tak terbantahkan
Ada yang senang,
Banyak malah
Tapi yang sedihpun tidak kalah jumlahnya

Apakah dia lupa akan kisahnya?
Saat sang raja mati tenggelam
Tidak perlu ketajaman untuk membinasakan
Tidak perlu beriak untuk menghanyutkan
Semua bisa habis tanpa sempat disadari
Tak terbantahkan
Ini hanyalah pilihan
Hidup tidak pernah menunggu untuk merasakan kita
Dalam sadar permohonan, mengertilah
Kumohonkan wahai jiwa yang tak pernah tenang

II. sekolah, dari curhat seorang teman

Panas sekali hari ini
Teriknya matahari membakar jiwa yang sempat lembab
Saat dia menggoda dengan kata-kata
Harapannya terasa dekat tiada bersisa
Mengapa harus ada tercipta rasa ini?
Kau, aku telah bersandar walau tak pasti
Dia, dirinya bermimpi malam berkabut
Campur aduk rasa menambah gelisah
Terjaga dalam sadar sesaat memahami hadirnya
Sudahlah,
Kutak menampik ada permainan
Tapi kucoba keringkan peluh
Lagi sinarnya begitu menyengat
Kali ini ada api yang terlanjur membara
Menggerayangi setiap inchi tubuh
Menahan melawan hampa yang tercipta
Saat sejak jarak nyatakan ada

III. jatuh cinta, di awang-awang

Aku mencintaimu sepenuh hati
Walau logisku tak menampik banyak kemungkinan
Tapi nyatanya itu yang kurasa
Saat fajar kembali menghangatkan hati
Menentramkan kisah yang lama kelam

Mengapa saja tak kau permudah
Wahai juwita yang kudamba
Hadirkanlah masa untukku tersenyum
Lepas sesak yang masih saja kualami
Mendambamu bagai daun kering berharap hujan
Setiap waktunya hanya bisa menanti dan berdoa

Tapi aku tidak senaif itu
Cintaku mengebu-gebu untuk milikimu
Selamatkan dunia yang terselimuti kabut, pasir
Berharap sekedar melembabkan
Karena kau selalau kurindukan, sadar dan tidak
=awal oktober 09

IV. taragak kampung

Sempatkan aku nyatakan ini
Karena kutak tahu esok hari
Takkan pernah tahu
Menatap pejaman matamu kembali kuingin
Mendamba dekapan wajah letih penuh ikhlas

Sandarkan aku di bahumu
Karena kutak pernah tahu nanti sore
Mencium bau asap dapur yang kurindukan
Melepaskan lelahku selepas bermain
Aku benar-benar rindu
Setelah lama sekali kutak melihat kabarmu
Mendengar suaramu semakin membuatku lirih
Tenggelam dan larut dalam panasnya kota ini
Jauh terbentang lautan memberi jarak
Tetap kutak pernah tahu
Apa ada esok, bahkan walau sekedar sore
= 291009

V. di suatu ruang

Mereka begitu perkasa membantai segala campur aduk rasa yang terbenam dalam khayalan tak pantas
Di sinilah aku terkepung dalam keributan canda tawa memalukan
Memaksaku untuk menerjang dalam haru hatiku
Sempurnakan pagi yang selalu penuh cinta
Membuyarkan harapan yang semakin goyah, rapuh sebelum mapan
Mengapa mereka tidak meminta yang lain dengan damai?
Walau ternyata keadaan terbatas adalah suatu yang sebenarnya memilukan
Beginilah hidup,
Terbanting sudah mimpi tak berisi selama ini, hampa tiada rasa
Menjadi tiba-tiba pahit tak terbantahkan
Geliatkan hari yang semakin menjadi menekan kuat dalam ketertpurukan
Warna kelam tiada penerangan sama sekali, bahkan hanya sekedar percikan kilau, tidak!
Aku, hingga detik ini hanya diam terpana terguyur hujan
=Bogor, 251109

VI. doa suatu pagi

Kegelisahan ini telah menekanku, menyesatkan hati yang sangat tidak pantas kualami. jaminanMu dalam kata seperti telah mengutuk. Tiada sangka-sangkaku yang berarti, hanyalah asumsi tidak penting sama sekali. Menikmati masa sendiri bukan berarti sepi tanpa tepi. Hanya samar saja pinggiran tertutup kabut pagi yang begitu tebal. Kurindu, dan merindukan dambaan dekapan. Saat fajarMu berikan kehangatan setiap pagi.
Bantulah aku dapatkan rasanya, ketika yang lain tengah sibuk dengan masanya masing-masing. Temukan satu yang mengikat dalam RidhaMu kumohonkan. Dalam riang mereka aku tertunduk pening bagai tertekan teror terdashat. Aku tidak bersedih, hanya mengharap suatu doa tak berlandai, terhiba akan mendungnya.
=bogor, awal 2010


TAGS diary tentang dhuhary


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post