• 12

    Aug

    Suhat 3

    #4 11 Agustus 2011 Hari ini aku mati, sadis tersayat sepi, terbantai perasaan dalam raungannya Kekasihku, begitu banyak kata-kata yang berkecamuk dalam pikiranku seharian tadi, tapi kenapa susah sekali memulai merangkainya malam ini. Aku bingung harus memulai darimana. Apalagi perdebatan panjang sore tadi yang berakhir dengan tangisanmu. Aku selalu mati di depan perempuan yang menangis. Aku akan luluh bersabar menanti tangisan reda. Andai aku di situ, ingin aku memelukmu, mencium keningmu, dan katakana kalau semua akan baik2 saja, kebahagian akan menjadi milik kita. Tapi tidak mungkin, kamu telah menolaknya dan berusaha membuang membuyarkan mimpi yang ironisnya kita berdua ciptakan. Sayang, aku bukanlah seorang yang ambisius, aku seorang datar dan bersembunyi dibalik kata relaistis. A
  • 12

    Aug

    Suhat 2

    #2 Menjelang sahur, 10 Agustus 2011 Kekasihku, aku selalu mendapat masalah dalam kepercayaan. Jarak membuat aku sulit untuk meraihnya, bahkan sikapku ternyata juga membuat aku tidak bisa dipercaya. Padahal aku sudah memberikan kata-kataku, kenapa tidak diberikan waktu untuk membuktikannya? Kekasihku, aku bersedih dan menangis dalam harapanku yang kian semu. Mungkin ini yang terbesar sepanjang hidupku. Dan ketika aku inginkan sesuatuwaktu masih kecil dulu, aku belum bisa menentukan baik buruknya. Kadang aku memaksa dengan marah dan tangisan. Tapi ibuku walau sering berkata tidak, tetap berusaha memenuhinya. Kakak-kakakku lebih realistis, sementara ayahku keras dan tegas. Saat ini, kekasihku, mendekati usiaku yang ke-29. Aku ingin sekali merengek pada Tuhan, kenapa tidak dipermudah saja?
  • 12

    Aug

    Suhat 1

    #1 Kekasihku, aku mulai suratku ini dengan kisah cinta Qays dan Layla. Ingatkah dirimu denga kisah klasik yang melegenda itu. Atau mungkin nama layla Majnun lebih akrab di telingamu. Qays adalah seorang pencinta, ia menjadi gila demi cintanya. Hampir setiap waktunya terlafaz nama kekasih hati dalam kata-kata yang indah. Sgera tanpa ia sadari, jadilah ia seorang pujangga, pujangga gila si pemuja kekasih. Ia sampaikan kepada semua alam, setiap orang yang ia temui. Layla adalah sang kekasih, ialah perindu bisu yang tak bisa mengungkapkan segala rasa yang seharusnya indah. Semua keindahan itu hanya bisa ia pendam, lama dan jauh di lubuk hati, tertanam kokoh dan tentu saja tak tercabut lagi. Keduanya terpisah, sayang. Si pencinta gila dan kekasihnya, perindu bisu. Tak tahan dengan rindun
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post